Dr. Suhardin, S.Ag., M.Pd. (Ketua LPLH&SDA MUI)
Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas vulkanik paling tinggi di dunia. Posisi geografis Indonesia yang berada pada kawasan Ring of Fire menjadikan keberadaan gunung api aktif sebagai bagian dari dinamika geologis Nusantara. Erupsi gunung api dapat terjadi dengan intensitas dan karakter yang berbeda-beda, sebagaimana aktivitas vulkanik yang kembali menjadi perhatian masyarakat pada September 2026.
Fenomena letusan gunung api tentu dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan. Pergerakan dan interaksi lempeng tektonik, aktivitas magma, tekanan di dalam bumi, serta kondisi geologis lainnya merupakan bagian dari mekanisme alam yang dapat diteliti dan dipahami secara ilmiah.
Namun bagi seorang Muslim, fenomena alam tidak berhenti pada penjelasan mengenai proses fisiknya. Alam juga dapat menjadi ruang untuk melakukan tadabbur: membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.
Dalam konteks inilah fenomena gunung meletus dapat direnungkan melalui pesan spiritual Al-Qur’an, salah satunya melalui Surah Al-Qari’ah.
Al-Qari’ah: Ketukan Dahsyat Hari Kiamat
Al-Qari’ah merupakan nama surah ke-101 dalam Al-Qur’an. Secara bahasa, al-qari’ah mengandung makna sesuatu yang mengetuk atau menghantam dengan dahsyat. Dalam konteks surah, istilah tersebut merujuk pada kedahsyatan Hari Kiamat.
Allah menggambarkan keadaan manusia dan gunung-gunung pada hari tersebut:
“Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan.”
(QS. Al-Qari’ah [101]: 4–5)
Gambaran tersebut menunjukkan perubahan dahsyat terhadap tatanan kehidupan dan alam semesta. Manusia yang selama hidupnya merasa kuat dan berkuasa digambarkan dalam keadaan tidak berdaya, sementara gunung yang secara kasatmata merupakan simbol kekokohan justru digambarkan menjadi seperti bulu yang berhamburan.
Para mufasir memahami ayat ini sebagai bagian dari gambaran kedahsyatan Hari Kiamat. Karena itu, ayat tersebut tidak tepat diposisikan sebagai penjelasan langsung mengenai fenomena erupsi gunung api yang terjadi pada masa sekarang.
Namun demikian, fenomena gunung meletus dapat menjadi momentum refleksi untuk memahami pesan moral dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Gunung yang Kokoh dan Kesadaran tentang Keterbatasan Manusia
Dalam kehidupan sehari-hari, gunung sering dipersepsikan sebagai simbol kekuatan, keteguhan, dan kestabilan. Ia berdiri kokoh selama puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun sehingga manusia mudah menganggapnya sebagai sesuatu yang permanen.
Erupsi gunung api memberikan perspektif yang berbeda.
Material vulkanik dapat keluar dari dalam bumi dengan energi yang sangat besar. Abu vulkanik dapat menyebar ke wilayah yang luas, lava dapat mengalir, dan aktivitas vulkanik dapat memberikan dampak serius terhadap kehidupan masyarakat, lingkungan, transportasi, kesehatan, maupun perekonomian.
Di hadapan fenomena tersebut, manusia menyadari bahwa kemampuan teknologi sekalipun memiliki batas.
Ilmu pengetahuan memang telah memungkinkan manusia melakukan pemantauan aktivitas gunung api, menganalisis kegempaan, mengamati perubahan permukaan, serta membangun sistem peringatan dini. Namun teknologi tersebut pada hakikatnya merupakan instrumen untuk memahami dan mengurangi risiko, bukan sarana untuk mengendalikan seluruh kekuatan alam.
Kesadaran akan keterbatasan inilah yang dapat menjadi pintu masuk bagi refleksi teologis.
Manusia berikhtiar memahami alam, tetapi tetap menyadari bahwa dirinya bukan penguasa mutlak atas alam.
Erupsi Gunung Bukan Berarti Kiamat Akan Segera Terjadi
Ketika sejumlah gunung api mengalami aktivitas dalam waktu yang berdekatan, tidak jarang muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah fenomena tersebut merupakan tanda-tanda kiamat?
Pertanyaan semacam ini perlu dijawab secara proporsional dan hati-hati.
Dalam perspektif Islam, Hari Kiamat merupakan perkara gaib. Waktu terjadinya tidak diketahui manusia. Karena itu, tidak tepat apabila suatu erupsi tertentu langsung dinyatakan sebagai bukti bahwa kiamat akan segera terjadi.
Letusan gunung api merupakan fenomena geologi yang memiliki mekanisme ilmiah. Indonesia memang berada di kawasan tektonik yang sangat aktif dan memiliki banyak gunung api aktif. Aktivitas vulkanik karena itu merupakan bagian dari karakter geologis wilayah Indonesia.
Dengan demikian, tidak terdapat dasar yang memadai untuk menyamakan setiap letusan gunung dengan peristiwa kiamat sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Qari’ah.
Akan tetapi, membedakan keduanya bukan berarti menghilangkan dimensi spiritual dari fenomena alam.
Justru di sinilah pentingnya tadabbur.
Dari Fenomena Alam Menuju Kesadaran Spiritual
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, pergantian siang dan malam, hujan, tumbuhan, hewan, serta berbagai fenomena alam sebagai tanda-tanda yang mengantarkan manusia kepada kesadaran tentang kebesaran Allah.
Dalam kerangka tersebut, letusan gunung dapat dipandang sebagai ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kebesaran Allah yang terbaca melalui ciptaan dan hukum-hukum alam.
Tentu, istilah tersebut tidak berarti setiap fenomena alam harus ditafsirkan sebagai pesan khusus atau hukuman langsung dari Allah. Yang lebih penting adalah bagaimana manusia mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.
Letusan gunung mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Manusia dapat membangun gedung-gedung tinggi, menciptakan teknologi modern, mengembangkan satelit, memantau aktivitas magma, dan membuat sistem peringatan dini. Namun manusia tetap tidak mampu menghapus seluruh risiko bencana alam.
Kesadaran tersebut semestinya melahirkan dua sikap yang berjalan beriringan: ikhtiar dan tawakal.
Ikhtiar menuntut manusia menggunakan ilmu pengetahuan untuk memahami alam dan mengurangi risiko bencana. Sementara tawakal menanamkan kesadaran bahwa setelah seluruh usaha dilakukan, manusia tetap merupakan makhluk yang memiliki keterbatasan di hadapan kekuasaan Allah.
Ikhtiar Keilmuan dan Tanggung Jawab Keagamaan
Kesadaran teologis tidak seharusnya menjadikan manusia pasif menghadapi bencana.
Sebaliknya, keimanan justru harus mendorong tanggung jawab untuk menjaga keselamatan kehidupan.
Dalam menghadapi erupsi gunung api, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari lembaga yang berwenang, memperhatikan status aktivitas gunung, mematuhi zona bahaya, memahami jalur evakuasi, serta mengikuti prosedur mitigasi yang telah ditetapkan.
Dalam perspektif Islam, menjaga keselamatan jiwa merupakan bagian penting dari tanggung jawab manusia.
Karena itu, mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kesadaran keagamaan bukanlah sesuatu yang kontradiktif. Ilmu membantu manusia memahami bagaimana suatu fenomena terjadi, sedangkan agama memberikan ruang untuk merenungkan apa makna moral dan spiritual yang dapat diambil dari fenomena tersebut.
Keduanya dapat berjalan berdampingan.
Al-Qari’ah Tidak Hanya Berbicara tentang Gunung, tetapi tentang Amal Manusia
Pesan Surah Al-Qari’ah bahkan menjadi semakin kuat ketika kita memperhatikan kelanjutan ayatnya.
Setelah menggambarkan kedahsyatan Hari Kiamat, surah ini berbicara tentang mizan, yaitu timbangan amal manusia.
Orang yang berat timbangan kebaikannya akan memperoleh kehidupan yang diridhai, sedangkan orang yang ringan timbangan amalnya menghadapi konsekuensi yang berat.
Di sinilah refleksi terhadap fenomena gunung meletus dapat diarahkan.
Ketika menyaksikan gunung mengeluarkan kekuatan dahsyat, perhatian manusia mungkin tertuju pada abu, lava, suara letusan, kerusakan, atau dampak ekonomi. Akan tetapi, Al-Qari’ah mengajak manusia untuk melangkah lebih jauh dengan mengajukan pertanyaan yang bersifat personal:
Bagaimana dengan timbangan amal kita?
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan apakah sebuah erupsi merupakan tanda kiamat.
Gunung yang meletus dapat mengingatkan manusia tentang kedahsyatan alam. Sementara Al-Qari’ah mengingatkan tentang kedahsyatan Hari Perhitungan.
Keduanya bukan peristiwa yang sama dan tidak boleh dicampuradukkan. Namun fenomena alam dapat menjadi momentum untuk mengingat kehidupan akhirat dan memperbaiki kualitas kehidupan di dunia.
Bencana Bukan Alasan untuk Menghakimi Korban
Refleksi keagamaan terhadap bencana juga harus disertai dengan kehati-hatian moral.
Ketika bencana terjadi, tidak semestinya manusia tergesa-gesa menyimpulkan bahwa para korban sedang menerima hukuman Allah karena dosa-dosa tertentu.
Kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk memastikan secara spesifik maksud Allah di balik suatu musibah yang menimpa seseorang atau suatu masyarakat.
Musibah dapat menjadi ujian, peringatan, atau memiliki hikmah yang tidak seluruhnya mampu dipahami manusia.
Karena itu, respons yang lebih tepat adalah mendoakan, membantu, menyelamatkan, melakukan mitigasi, dan mengambil pelajaran.
Dalam konteks erupsi gunung api, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas. Solidaritas sosial, kepedulian terhadap kelompok rentan, penyediaan bantuan, serta kepatuhan terhadap informasi kebencanaan merupakan bentuk nyata dari nilai kemanusiaan dan tanggung jawab keagamaan.
Gunung Meletus dan Pesan tentang Kesombongan Manusia
Fenomena gunung api pada akhirnya membawa manusia kepada sebuah kesadaran sederhana: manusia bukan penguasa mutlak atas bumi.
Manusia memang diberi akal dan kemampuan untuk mengelola alam. Namun kemampuan tersebut tidak boleh melahirkan kesombongan.
Kekayaan, kekuasaan, ilmu pengetahuan, jabatan, dan teknologi tidak membuat manusia terbebas dari keterbatasan. Bahkan manusia tetap tidak memiliki kuasa atas kapan dan bagaimana kehidupan dirinya berakhir.
Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam kesombongan duniawi. Pada saat yang sama, fenomena alam dapat menjadi ruang kontemplasi agar manusia menyadari posisi dirinya sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab kepada Sang Pencipta.
Karena itu, ketika menyaksikan sebuah gunung meletus, seorang Muslim tidak harus tergesa-gesa mengatakan:
“Ini pasti tanda kiamat.”
Refleksi yang lebih tepat adalah:
“Ini merupakan fenomena alam yang perlu dipahami secara ilmiah sekaligus menjadi kesempatan bagi kita untuk mengingat kebesaran Allah, menyadari keterbatasan manusia, menjaga kehidupan, dan mempersiapkan amal sebelum datangnya Hari Perhitungan.”
Penutup: Bukan Menebak Kiamat, tetapi Mempersiapkan Diri
Surah Al-Qari’ah menghadirkan salah satu gambaran paling kuat mengenai kedahsyatan Hari Kiamat: manusia beterbangan seperti laron, sementara gunung-gunung menjadi seperti bulu yang berhamburan.
Sementara itu, letusan gunung api merupakan fenomena geologi nyata yang memiliki mekanisme ilmiah dan dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan.
Keduanya tidak boleh disamakan.
Erupsi gunung api bukan secara otomatis berarti kiamat sedang berlangsung atau akan segera terjadi. Menentukan waktu kiamat bukanlah wilayah pengetahuan manusia.
Namun, fenomena alam dapat menjadi momentum untuk melakukan tadabbur. Gunung yang selama ini terlihat kokoh dapat memperlihatkan betapa terbatasnya kemampuan manusia di hadapan kompleksitas alam.
Dari sana lahir kesadaran bahwa manusia membutuhkan ilmu untuk memahami alam, membutuhkan ikhtiar untuk menjaga keselamatan, membutuhkan kepedulian untuk membantu sesama, dan membutuhkan tawakal untuk menyadari keterbatasan dirinya.
Pada akhirnya, pesan terpenting dari refleksi ini bukanlah kapan kiamat akan datang, melainkan bagaimana manusia mempersiapkan diri ketika hari itu benar-benar datang.
Sebab yang akan menentukan keselamatan manusia bukanlah kemampuannya menebak tanda-tanda kiamat, tetapi bagaimana ia menjalani kehidupan, menjaga amanah, berbuat baik kepada sesama, menjaga bumi, dan mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah.
Maka, setiap bencana semestinya tidak hanya membuat kita takut kepada kedahsyatan alam, tetapi juga mendorong kita untuk semakin rendah hati, semakin peduli, semakin menghargai ilmu pengetahuan, dan semakin dekat kepada Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
